Sakinah Mawaddah dan Rahmah
Sakinah Mawaddah dan Rahmah, kalimat itu adalah
dambaan setiap keluarga, do’a yang selalu disampaikan berulangkali. Tidak
terhitung sudah berapa kali do’a itu melewati telinga kita, atau terucap dari
bibir kita.
Sakinah, yang berarti ketenangan,
kenyamanan, dan kecenderungan yang hangat terhadap pasangannya yang halal. Mawaddah
artinya rasa cinta, dan Rahmah artinya kasih sayang.
Yang dalam keseluruhannya bisa diartikan sebagai
aktifitas yang saling melindungi, menyayangi, menjaga, membantu, serta memahami
hak dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam suatu riwayat diceritakan, iblis
mengumpulkan para panglima terbaiknya. Dalam pertemuan itu, iblis mau
memberikan singgasana bagi panglima yang memiliki prestasi terbaik selama
menjalankan proker (program kerja).
Secara bergantian panglima pilihan iblis itu
memberikan laporan. Berbagai macam bentuk kedzaliman disampaikan, tapi belum
ada dianggap spesial oleh iblis. Sampai giliran panglima A, dia berkata, “Aku
telah membunuh sekian ribu manusia.”
Iblis menganggap itu prestasi bagus, singgasana
ingin diberikan, tiba-tiba ada yang menyahut, panglima B melaporkan
prestasinya, “Aku telah memurtadkan sekian ribu manusia.”
Iblis menganggap prestasi B lebih bagus.
Singgasana tak jadi untuk A, iblis hendak memberinya pada si B, tiba-tiba ada
yang memotong, “Tunggu, aku punya yang lebih baik dari itu semua.”
“Aku telah menceraikan sekian ribu manusia.” ujar
si C.
Singgasana sebagai simbol keberhasilan seorang
panglima berhasil diperoleh si C. Ya, ia berhasil memutus ikatan suci yang
dalam Al-Quran disebut sebagai mitsaqan-ghalidza. Itulah prestasi
terbaik yang selalu dilakukan oleh para syaitan. Mereka berlomba-lomba,
melakukan berbagai upaya, demi tercerainya sebuah pernikahan.
Siapapun Anda, yang sudah ataupun belum menikah.
Jadikan ini sebagai hal yang harus Anda persiapkan. Berkali-kali disebutkan
dalam Al-Quran ‘aduwwum-mubin, musuh yang nyata. Bagaimana mungkin
Allah menyebutkan sesuatu yang ghaib sebagai sesuatu yang nyata. Pasti ada
maksud. Selama ini mungkin kita hanya menganggap diri kita bisa terlindung dari
mereka dengan membaca ta’awudz dan bertawakkal bahwa Allah
ada sebagai penolong.
Untuk mendapat pertolonganNya, ada ikhtiar yang
harus kita lakukan. Membuat program-program yang jelas di dalam keluarga adalah
salah satu bentuk ikhtiar. Program-program keluarga yang terukur, terencana,
dan terevaluasi, setelah itu ditutup dengan do’a. Berharap program-program itu
menjadi wasilah untuk mendapatkan pertolongan Allah dalam menyempurnakan tujuan
dari terbentuknya sebuah keluarga, hingga dipertemukan kembali di akhirat.
Taken from : Ibrahim Vatih article